Pages

Rabu, 25 Mei 2011

Layang-layang dan Pesawat



Sebagaimana halnya anak-anak pada masanya, aku pun suka bermain layang-layang bersama teman-temanku sewaktu kecil. Berlari-lari di lapangan yang luas membentang..ah…begitu indahnya masa itu. Sesekali layang-layangku hampir tersangkut oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi. Aku memang tidak begitu pandai menerbangkan layang-layang, maklum frekuensi bermainku tidaklah sebanyak temen-temen seusiaku pada waktu itu. Tapi, ada satu pemahaman yang menarik ‘setinggi apapun layang-layang terbang, ia tetap perlu dikendalikan oleh kekuatan lain yang ada di bawah’ ya pengendali layang-layang itu.
Hmm...satu lagi kebiasaan yang boleh dikatakan kampungan…. Jika ada pesawat yang kebetulan terbang walaupun sangat tinggi, spontan kami akan berlarian mengejarnya, sambil berteriak-teriak “pesawat-pesawat minta duitnya”. Tentunya dengan bahasa daerah kami lah, rasanya tidak perlu disebutkan. Sampai suatu saat aku berpikir, ‘sekencang apapun kita berlari mengejar, itu hanyalah sia-sia belaka, pesawat itu tidak akan memberikan apa yang kita inginkan’. Tapi, memang berbeda dengan layang-layang, ‘pesawat mampu terbang tinggi, tapi ia tidak dikendalikan oleh kekuatan di bawah, ia mengendalikan dirinya dari atas oleh seorang pilot tentunya’.

Ada hal yang menarik buatku.
pertama; ’sekencang apapun kita berlari, kita tak akan sanggup menjangkau pesawat, apalagi mengharap keuntungan darinya’. Kata si Mbah, untuk menggapai cita-cita yang tinggi tidak hanya diperlukan kerja keras, tetapi diperlukan juga langkah-langkah cerdas, ketekunan, kedisiplinan, semangat, kemampuan untuk belajar, bekerja sama, bahkan seni bersaing layaknya memperebutkan layang-layang. Maka, pesan bijak si Mbah, jangan engkau seperti mereka bila ingin menggapai pesawat, berlari-lari atau hal sia-sia apapun, tapi belajarlah, siapkan harimu esok, engkau akan terbang tinggi bersama pesawatmu.
Kedua, ‘setinggi apapun layang-layang ia tetap dikendalikan dari bawah, lain halnya pesawat meski tinggi ia mampu mengendalikan dirinya, karena semestinya begitu’. Lagi-lagi pesan si Mbah, semestinya orang-orang ‘tinggi’, orang-orang yang berjiwa mulia itu tidaklah dikendalikan oleh kepentingan-kepentingan yang sifatnya rendah, ia mampu terbang tinggi menjulang dengan pengendalian diri dan kebijaksanaan-kebijaksanaan untuk terus membawa manfaat bagi setiap orang. Ya, layaknya pesawat membawa penumpangnya sampai ke suatu tujuan. Maka, berlatihlah menjadi orang mulia, tidak harus tinggi, atau jika engkau mesti mendudukinya, maka berlatihlah mengendalikan diri, belajarlah hikmah kebijaksanaan, hingga suau saat nanti orang menyoroti, memperhatikanmu, itu karena kebesaran jiwa dan kebijaksanaanmu…

bisakah engkau seperti itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar